Panas itu memang bukan kondisi yang menyenangkan. Sudah hampir sebulan, suhu di kota Cilacap Berbahaya Bercahaya cenderung memanas. Di tambah dengan adanya perbaikan bangunan di kantor, bikin suasana sangat tidak menyenangkan. Kombinasi antara panas, debu, dan bising ternyata merupakan ramuan mujarab penghilang rasa nyaman. Akhirnya, merdesa yang asri, hijau, teduh, dan nyaman tinggal impian.
Sayangnya, ternyata itu bukan akhir dari segalanya. Kondisi ruangan yang panas ternyata berimbas ke PC ku tersayang. Tanpa kasih aba-aba, PC ku tiba-tiba mati. File-file yang belum tersimpan, proses download dari Rapidshare yang terpotong (berarti harus mengulang dari awal karena nggak pakai Rapidshare Premium Account), itu menjadi bencana berikutnya.
Pertanyaan pertama di benakku, “Ada apa ini?”. Pikiranku langsung tertuju ke Processor. Ternyata benar, pas ku sentuh pada bagian aluminium pendingin, sensor-sensor suhu di kulitku mengirimkan berita ke otak tentang adanya pemanasan global di processor. Penasaran, ku cek suhu melalui BIOS. Yeah.. ternyata 103 derajat Celcius. Lebih dari cukup untuk bikin komputerku mati. Penyebabnya ternyata gara-gara Fan Coolernya tidak bisa berputar dengan baik. Akhirnya beli baru deh..
Alhamdulillah, setelah ganti Cooler, Suhu kembali normal. Buat jaga-jaga, ku pasang aplikasi Speedfan, yang bisa nge-detect Voltage, Fan Speed, dan Temperature.

speedfan






















0 Comments on “Pemanasan Lokal”
Leave a Comment